Kisah Nyata untuk Pelajaran - Harapan Seorang Ibu
Mobil pribadi itu meluncur di jalanan, Tidak ada yang istimewa. Tetapi dialog didalamnya yang istimewa. Seorang ibu ditemani oleh putrinya. Seorang gadis yang mulai beranjak remaja.
Sebongkah gundah membalut hati sang ibu. Usia anak gadisnya bertambah namun tak demikian dengan kesholehannya. Padahal orang tuanya sudah memilihkan sekolah Islam terbaik agar lebih baik agamanya. Tidak tanggung - tanggung, sekolah yang biayanya tidak bisa dimasuki oleh mereka yang berekonomi menengah sekalipun.
Sang ibu yang sejak tadi memandangi anak gadisnya itu berkata,"Nak, sejak baligh hingga usiamu sekarang, ibu perhatikan sholatmu masih belum teratur. Selain itu, kamu lebih suka sholat sendirian, daripada sholat berjama'ah."
Perkataan itu terus meluncur tanpa respon apapun dari sang putri. "Apa kamu tidak takut nak, kelak kamu menjadi penghuni neraka...!" Suara terputus oleh isak tangisannya yang tak tertahankan. Ibu tak kuasa membayangkan buah hatinya menjadi penghuni neraka kelak. Sang putri terhenyak, melihat ibunya menangis. Dia tidak menduga bahwa hal ini menjadi beban di hati ibunya. Tersadar ia bahwa nasehat ibunya itu demi kebaikannya. Agar kelak mereka bisa berkumpul di surga.
Betapa beruntungnya putri itu dianugerahi Allah SWT seorang ibu yang mengerti visi keluarga. Tanggung jawab dunia hingga akhirat. Semoga Allah SWT memberkahi mereka. Aamiin.
(dari buku "Inspirasi dari Rumah Cahaya")
Sebongkah gundah membalut hati sang ibu. Usia anak gadisnya bertambah namun tak demikian dengan kesholehannya. Padahal orang tuanya sudah memilihkan sekolah Islam terbaik agar lebih baik agamanya. Tidak tanggung - tanggung, sekolah yang biayanya tidak bisa dimasuki oleh mereka yang berekonomi menengah sekalipun.
Sang ibu yang sejak tadi memandangi anak gadisnya itu berkata,"Nak, sejak baligh hingga usiamu sekarang, ibu perhatikan sholatmu masih belum teratur. Selain itu, kamu lebih suka sholat sendirian, daripada sholat berjama'ah."
Perkataan itu terus meluncur tanpa respon apapun dari sang putri. "Apa kamu tidak takut nak, kelak kamu menjadi penghuni neraka...!" Suara terputus oleh isak tangisannya yang tak tertahankan. Ibu tak kuasa membayangkan buah hatinya menjadi penghuni neraka kelak. Sang putri terhenyak, melihat ibunya menangis. Dia tidak menduga bahwa hal ini menjadi beban di hati ibunya. Tersadar ia bahwa nasehat ibunya itu demi kebaikannya. Agar kelak mereka bisa berkumpul di surga.
Betapa beruntungnya putri itu dianugerahi Allah SWT seorang ibu yang mengerti visi keluarga. Tanggung jawab dunia hingga akhirat. Semoga Allah SWT memberkahi mereka. Aamiin.
(dari buku "Inspirasi dari Rumah Cahaya")
Komentar
Posting Komentar