Kisah Nyata untuk Pelajaran - Peran Orangtua

Sore itu begitu istimewa bagi empat orang ibu - ibu. Meraka adalah pendidik Al Qur'an di sebuah masjid, Mereka sedang mengikuti sebuah kajian. Terlihat jelas mereka begitu antusias menyimak pemaparan materi dari seorang ustad. Materi yang akan mengubah konsep pendidikan masjid yang selama ini biasa saja menjadi luar biasa.


Ustad itu tidak sendiri. Ia bersama rekannya yang akan mengawal secara langsung perjalanan perubahan konsep pendidikan tersebut. Beliau berpengalaman menangani sekitar 70 anak didik di setiap sore. Begitu selesai sesi pemaparan, kini giliran sesi tanya-jawab. Tak diduga, kedua ustad itu seperti dihujani pertanyaan dan pernyataan. Hingga, ustad kedua diberi kesempatan untuk menyampaikan tausiyah dan pengalamannya saat menangani 70 orang anak didik dimana konsep tersebut diterapkan.

"Ibu-ibu, konsep ini tidak akan berjalan baik tanpa pemahaman dan kerjasama yang baik pula dari para orangtua. Oleh karena itu, di awal perlu mengumpulkan semua orang tua murid untuk menyamakan persepsi demi keberhasilan penerapan konsep tersebut. Jadi ada kesepakatan pertemuan dengan semua guru," Sang ustad menegaskan.

Para ibu-ibu mengangguk. Beberapa diantara mereka saling berpandangan. Bahkan permintaan ustad pun ditanggapi ringan, "Oooo... kalau itu, Insya Allah mudah ustad," jawab seorang ibu mewakili. 

Seakan menangkap sebuah kejanggalan, ustad berkata, "Saya ingin yang datang kedua orangtua, bapak dan ibu."
Seketika para ibu berubah wajahnya,"Wah, kalau itu sulit ustad."
"Kalau para ibu biasa kita kumpulkan. Tapi para bapak, sulit untuk bisa berkumpul," sambung ibu tadi.

Ustad kembali menegaskan maksudnya, "Tapi saya minta para bapak tetap berkumpul. Paling lama dua jam. Cari waktu yang semua bisa berkumpul. "Ustad pun menutup kajian hari itu.
"Baik ustad, kami akan sangat usahakan," suara ragu itu tidak bisa disembunyikan.

Dari cuplikan kisah tadi, tampak jelas persepsi pendidikan seringkali hanya menjadi agenda pembahasan para ibu saja. Seorang ayah selalu diabaikan atau mengabaikan keterlibatannya di dunia pendidikan anak. Padahal ayah lah yang berpotensi menghapus semua kebaikan kalau mereka tidak mengerti ilmu pendidikan anak. Sebuah fenomena ketimpangan yang dapat menggagalkan tujuan melahirkan generasi penerus kegelimangan Islam.

(dikutip dari buku : "Inspirasi dari Rumah Cahaya")

Komentar