Kisah Nyata untuk Pelajaran - Peran Guru
Seorang guru adalah pendidik dan pengasuh. Mereka harus mengetahui benar cara asih mengasuh sekaligus mengasah potensi anak didiknya. Tak pernah jemu memberikan stimulus yang membangkitkan rencana kebesaran yang tertidur dalam hati setiap anak didiknya.
Seorang guru menceritakan pengalamannya bagaimana ia berhadapan dengan seorang anak yang awalnya tidak peduli pada gurunya dan teman - temannya. Ia malah terlihat asyik dengan dirinya sendiri. Sebut saja namanya Irma. "Sejak hari pertama saya berinteraksi dengan anak itu disekolah, dia tidak pernah menegur. Dia asyik bermain sendiri di bawah pohon. Kemudian mengumpulkan apapun yang dijumpainya untuk dibentuk sesuatu. Selanjutnya 'sesuatu' itu dibawanya ke kelas,"ujar sang guru mulai mengisahkan pengalamannya.
Anak itu hanya datang ke sekolah, masuk kelas, bermain sendiri, dan masuk kelasa lagi lalu pulang. Begitulah aktivitasnya setiap hari selalu berulang. Melihat hal itu, sang guru mencoba untuk mengubah interaksi sosialnya. Setiap kali sang guru bertemu dengan anak itu di kelasa, gurunya hanya bertanya ringan dan singkat, "Apa kabar Irma,baik?"
Anak itu juga hanya menjawab singkat, "Baik."
Begitulah komunikasi singkat itu terus berjalan, Setiap hari sang guru mencoba menyadarkan sang anak dengan sapaan ringan. Hingga suatu hari saat sang guru sedang menjelaskan pelajaran di kelas, Sang guru mengatakan,"Setiap melihat pesawat bisa terbang di udara, bapak berpikir siapa yang bisa menciptakan sesuatu yang bisa berjalan di dalam lautan." Kalimat pancingan itu sangat inspiratif. Kalimat itu sekaligus menutup pelajaran di hari itu. Rupanya secara diam-diam Irma merespon kalimat inspirasi gurunya itu. Gurunya pun tahu. Irma mulai mencorat-coret kertasnya dengan menggambar sesuatu yang ada di dalam imajinasinya tentang sesuatu yang berjalan di dalam lautan. Irma sangat terobsesi.
Suatu hari sang guru mencoba untuk mengorek imajinasi sang murid,"Irma, sepertinya kamu orang yang tepat untuk membuat sesuatu yang bisa berjalan di dalam lautan. "Seperti biasa, tidak banyak kalimat yang keluar dari mulut Irma. Tapi jelas tekadnya bergumpal - gumpal tidak bisa disembunyikan.
Pada keesokan harinya, sang guru kembali bertemu seperti biasa dengan Irma. Sang guru kembali membangkitkan imajinasinya dengan kalimat singkat,"Bagaimana sudah selesai kendaraan yang bisa lewat di dalam lautan."
Begitulah. Setiap kali sang guru bertemu dengan Irma, dia selalu membangkitkan semangatnya dengan menanyakan perkembangan imajinasinya. Hingga suatu saat Irma setengah berteriak berkata, "Ya Pak! Tunggu dong. Aku lagi mikir nih..."
"Oke deh..." jawab sang guru.
Pada pertemuan wali murid dengan sekolah, sang guru bertemu dengan ayahnya Irma yang merupakan seorang pakar di sebuah bidang ilmu. "Ayah, saya pernah bilang ke Irma agar dia membuat kendaraan yang lewat di dalam lautan seperti pesawat di udara," lapor sang guru kepada ayahnya Irma.
"Ooooo... pantas. Di rumah, Irma minta dibuatkan kolam yang diisi dengan air laut. Nampaknya dia mulai membuat pengamatan tentang karakter air laut jika dimasuki sesuatu," jelas ayahnya Irma panjang lebar.
Begitulah, kisah singkat inti menjadi pelajaran mahal. Guru yang istimewa mampu mendorong imajinasi murid hingga dia membuktikan sesuatu yang awalnya hanya sebuah bayangan hingga menjadi nyata.
Demikian pula halnya Aq Syamsuddin yang menunjuk benteng Konstantinopel di hadapan sang murid Muhammad Al Fatih. Hingga benar-benar benteng itu berhasil dibuka oleh sang murid sekian tahun berikutnya.
(dari buku "Inspirasi dari Rumah Cahaya)
Seorang guru menceritakan pengalamannya bagaimana ia berhadapan dengan seorang anak yang awalnya tidak peduli pada gurunya dan teman - temannya. Ia malah terlihat asyik dengan dirinya sendiri. Sebut saja namanya Irma. "Sejak hari pertama saya berinteraksi dengan anak itu disekolah, dia tidak pernah menegur. Dia asyik bermain sendiri di bawah pohon. Kemudian mengumpulkan apapun yang dijumpainya untuk dibentuk sesuatu. Selanjutnya 'sesuatu' itu dibawanya ke kelas,"ujar sang guru mulai mengisahkan pengalamannya.
Anak itu hanya datang ke sekolah, masuk kelas, bermain sendiri, dan masuk kelasa lagi lalu pulang. Begitulah aktivitasnya setiap hari selalu berulang. Melihat hal itu, sang guru mencoba untuk mengubah interaksi sosialnya. Setiap kali sang guru bertemu dengan anak itu di kelasa, gurunya hanya bertanya ringan dan singkat, "Apa kabar Irma,baik?"
Anak itu juga hanya menjawab singkat, "Baik."
Begitulah komunikasi singkat itu terus berjalan, Setiap hari sang guru mencoba menyadarkan sang anak dengan sapaan ringan. Hingga suatu hari saat sang guru sedang menjelaskan pelajaran di kelas, Sang guru mengatakan,"Setiap melihat pesawat bisa terbang di udara, bapak berpikir siapa yang bisa menciptakan sesuatu yang bisa berjalan di dalam lautan." Kalimat pancingan itu sangat inspiratif. Kalimat itu sekaligus menutup pelajaran di hari itu. Rupanya secara diam-diam Irma merespon kalimat inspirasi gurunya itu. Gurunya pun tahu. Irma mulai mencorat-coret kertasnya dengan menggambar sesuatu yang ada di dalam imajinasinya tentang sesuatu yang berjalan di dalam lautan. Irma sangat terobsesi.
Suatu hari sang guru mencoba untuk mengorek imajinasi sang murid,"Irma, sepertinya kamu orang yang tepat untuk membuat sesuatu yang bisa berjalan di dalam lautan. "Seperti biasa, tidak banyak kalimat yang keluar dari mulut Irma. Tapi jelas tekadnya bergumpal - gumpal tidak bisa disembunyikan.
Pada keesokan harinya, sang guru kembali bertemu seperti biasa dengan Irma. Sang guru kembali membangkitkan imajinasinya dengan kalimat singkat,"Bagaimana sudah selesai kendaraan yang bisa lewat di dalam lautan."
Begitulah. Setiap kali sang guru bertemu dengan Irma, dia selalu membangkitkan semangatnya dengan menanyakan perkembangan imajinasinya. Hingga suatu saat Irma setengah berteriak berkata, "Ya Pak! Tunggu dong. Aku lagi mikir nih..."
"Oke deh..." jawab sang guru.
Pada pertemuan wali murid dengan sekolah, sang guru bertemu dengan ayahnya Irma yang merupakan seorang pakar di sebuah bidang ilmu. "Ayah, saya pernah bilang ke Irma agar dia membuat kendaraan yang lewat di dalam lautan seperti pesawat di udara," lapor sang guru kepada ayahnya Irma.
"Ooooo... pantas. Di rumah, Irma minta dibuatkan kolam yang diisi dengan air laut. Nampaknya dia mulai membuat pengamatan tentang karakter air laut jika dimasuki sesuatu," jelas ayahnya Irma panjang lebar.
Begitulah, kisah singkat inti menjadi pelajaran mahal. Guru yang istimewa mampu mendorong imajinasi murid hingga dia membuktikan sesuatu yang awalnya hanya sebuah bayangan hingga menjadi nyata.
Demikian pula halnya Aq Syamsuddin yang menunjuk benteng Konstantinopel di hadapan sang murid Muhammad Al Fatih. Hingga benar-benar benteng itu berhasil dibuka oleh sang murid sekian tahun berikutnya.
(dari buku "Inspirasi dari Rumah Cahaya)
Komentar
Posting Komentar